Sinopsis & Review Pengabdi Setan: Communion, Rahasia Di Balik Keluarga Ibu

pengabdi setan 2

Biarkan bapak melindungi kalian. Maafkan bapak.

Kejadian beberapa tahun silam sungguh mengejutkanku juga seluruh keluargaku. Adik bungsu kami... Ian, ternyata dia adalah anak setan yang selama ini disembah dan dipuja oleh Ibu kami. Kadang, aku berpikir, apakah aku juga anak setan sepertia Ian?

Tidak.. tidak.. itu kejadian yang sudah lama. Aku harus melupakan semuanya dan memulai hidup baru. Ya, walaupun hidup baru ini ternyata membawa petaka juga untukku dan adik-adikku. Semua ini karena Ibu.. atau Bapak?

WARNING! Artikel mengandung spoiler.

  • Tayangan: Bioskop
  • Genre Film: Horor, Drama Misteri
  • Tanggal Rilis: Agustus 2022
  • Durasi: 1 jam 59 menit
  • Pemain: Tara Basro (Rini), Endy Arfian (Toni), Nasar Annuz (Bondi), Bront Palarae (Bapak), Muzakki Ramdhan (Wisnu), M. Adhiyat (Ian), Ayu Laksmi (Ibu)

Sinopsis

review pengabdi setan 2

"Kakak mau meninggalkan kita semua?"

Suara Toni meninggi. Ketukan sendok makan malamnya pun menyepi. Hening.. semua diam saat mereka tahu bahwa aku telah memutuskan untuk keluar kota demi mencapai tujuanku, kuliah lagi. 

Sejak kejadian bertahun-tahun lalu, aku sebagai kakak tertua, harus merelakan pendidikan bangku kuliah demi menopang hidup juga mengurus dua adik laki-laki.

"Ya, kakak kan sudah banyak berkorban. Kalian juga sudah besar, jadi bisa mengurus diri sendiri." Ucapku telak tanpa mau dibantah.

"Sudah, kau pergi saja Rini. Biar kami semua tinggal di sini. Kejarlah cita-citamu untuk tetap melanjutkan kuliah." 

Sungguh perkataan bapak menenangkan hati kami semua. Akhirnya, Toni dan Bondi pun menurut apa kata bapak. Malam ini, aku pun berkemas untuk esok hari memulai hidup baru melanjutkan kuliah di Bandung.

Namun, pagi hari yang ku kira semuanya baik-baik saja, justru menjadi bencana untuk seluruh penghuni rusun di pinggiran Jakarta ini. Saat pagi hari, bapak dan Toni hendak pergi keluar. Mereka menggunakan lift rusun untuk turun dari lantai 9, rumah kami.

Tapi, Toni ditahan oleh seseorang yang menyebabkannya tidak jadi naik lift. Tapi bapak masih tetap di lift dan dia pun turun bersama penghuni rusun lainnya. Tak lama kemudian....

GRAKKK! BRAKK!

"Kenapa lift-nya berhenti?!" Teriakan panik dari salah seorang penghuni menggema di ruangan lift yang sempit.

BRAKKKK! KREKKKKK!

Terdengar suara kabel lift yang perlahan mulai turun seolah tak lama lagi lift itu akan jatuh ke dasar. Semua orang di dalam lift panik. Ada yang berusaha membuka paksa pintu lift. Sayang seribu sayang, pintu lift hanya menyisakan lubang kecil yang hanya muat untuk badan anak kecil.

Akhirnya, salah satu anak kecil di dalam lift itu pun keluar tanpa sempat menyelamatkan yang lainnya. Karena....

BRUGGGGG!!!!

Lift pun terjatuh dengan sangat keras menghantam lantai dasar. Sialnya lagi, di lantai dasar ada beberapa anak kecil yang ikut tergencet oleh lift tersebut. Kejadian nahas itu pun menelan banyak korban dari rusun. 

Para korban juga tidak segera dimakamkan karena hari sudah mulai gelap, ditambah hujan badai membahasi kota Jakarta, khususnya bagian Utara, tempat dimana rusun itu berada. Hujan badai pun membuat lantai dasar rusun tenggelam oleh air dari laut.

Para penghuni rusun yang masih hidup tidak ada pilihan lain, mereka hanya bisa menunggu. Tapi aneh, rusun ini terasa lebih sepi, seperti ditinggal oleh semua penghuninya. Yang tersisa hanya ada keluarga Rini, dua teman Bondi, satu anak kecil yang selamat dari insiden lift, Pak Ustad, juga dua remaja lainnya.

Mencari jawaban atas kepergian orang-orang di rusun, justru membawa petaka lain untuk Rini dan yang lainnya. Satu persatu orang yang tersisa di rusun meninggal secara mengenaskan. Ada yang tersengat listrik, terjepit, hingga Pak Ustad yang kepalanya putus!

Kini hanya tersisa Rini, dua adiknya, dua teman adiknya, dan satu anak kecil. Lantas, dimana bapak? Dia masih selamat. Namun sebenarnya, semua insiden mengerikan ini terjadi karena bapak. Bapak lah yang sudah bersekutu dengan setan, bukan ibu!

Ibu hanya kamuflase. Bapak ingin memutus ikatan itu dengan cara membunuh 1000 jiwa. Dia bilang, dia ingin melindungi anak-anaknya. Tapi justru, bapak sendirilah yang menjerumuskan kami dalam masalah. Belum lagi, ternyata Ian, adik bungsu kami lah yang menjadi pemimpin para pengikut di rusun.

Jelas sudah, semua penghuni rusun ternyata mengabdi pada satu kultus yang menyembah Raminom. Dan yang lebih gilanya lagi, kultus ini sudah ada sejak 1955 atau mungkin sebelum itu! Sungguh, aku benci ibu dan bapak!

Sinematografi yang Horor Banget

sinopsis pengabdi setan 2

Sejak menit pertama hingga akhir, aku paling suka dengan sinematografinya. Mereka menggunakan tone yang hangat dengan warna oranye namun terasa pudar di siang hari. Saat malam hari, warna hitam mencekam dengan pencahayaan minim dihadirkan dalam film ini untuk menambah suasana horor yang menegangkan.

Meski cahayanya terkesan gelap, tapi penonton masih bisa melihat dan menebak adegan yang ada. Asumsiku sih, hal itu bisa dilakukan karena pengarahan kameranya yang pas. Setiap adegan diambil dengan angle seolah penonton masuk ke dalam filmnya. Tapi bukan seperti film footage, ya.

Pergerakan kameranya yang dinamis dan terasa smooth juga menjadi nilai plus untuk Pengabdi Setan 2. Ada adegan dimana Rini berlari-lari. Adegan itu diambil dengan kamera dari arah depan wajah Rini, seolah ia membawa kameranya sambil berlari-lari.

Untuk meningkatkan tensi ketegangan yang ada, wajah Rini juga di-shoot dari jarak dekat sehingga penonton bisa lebih meresapi ekspresi dan perasaan Rini yang sedang ketakutan.

Enggak cuma itu aja, di film ini juga punya proporsi gambar yang estetik. Saat Rini terbaring di ruangan pemujaan setan, awalnya kamera menyorot wajah Rini secara close-up.

Baca Juga: Review Drakor Hometown

Lama kelamaan, kamera itu menjauh dan membuat ruangan terasa luas, seolah mau memberikan pesan bahwa pada saat itu Rini sangat tidak berdaya. Tidak bisa melakukan apa-apa selain berbaring. Ini bagus banget menurutku, aku salut dengan Joko Anwar!

Tapi sayangnya, ada sedikit kelemahan. Kurang terasa perbedaan dalam pergeseran tone warna latar dari tahun 1955 ke tahun 1980-an. Untungnya, penonton bisa tahu latar waktunya dari keterangan dalam setiap scene-nya.

Jadi, saat ada adegan flashback ke tahun 1955, scene tersebut pasti tersedia keterangan waktunya. Contohnya seperti: "1955 - Bandung." Berkat keterangan ini, penonton bisa lebih menyelami setiap adegan yang terjadi.

Isu Sosial: Si Kaya dan Si Miskin?

pengabdi setan: communion

Memang enggak banyak ngebahas isu sosial karena ini film horor yang lebih mengutamakan ketegangan. Tapi, aku menyorot beberapa dialog yang menyenggol isu 'si kaya dan si miskin.' Di sini menyinggung soal pekerja serabutan dan letak rusun yang terkesan 'terasingkan' dari Ibu Kota. Padahal masih sama-sama di Jakarta.

Jadi ceritanya, rusun yang ditinggali Rini sekeluarga ini terletak di daerah Jakarta Utara, dekat pesisir pantai. Tidak ada bangunan lainnya, hanya ada rusun itu saja. Cukup aneh bukan? Tapi ternyata, rusun itu memang horor. 

Namun uniknya adalah pemikiran Rini yang merasa rusun ini memang untuk orang buangan saja, alias orang miskin. Rini di sini berpikir cukup kritis dengan dialognya yang mengatakan: 

"Coba pikir, kenapa lahan ini masih sepi padahal di dekat pantai. Harusnya para orang kaya berebut untuk mengambil lahan ini. Tapi lihat? Hanya ada rusun kumuh di sini. Mereka tahu kalau lahan ini akan tenggelam kalau hujan badai datang!"

Begitulah kira-kira ucapan Rini. Saat itu aku langsung berpikir "benar juga" seolah rusun ini dijadikan tempat pemujaan dan pengorbanan jiwa-jiwa menggunakan orang-orang miskin, mengingat yang tinggal di rusun ini adalah orang-orang kurang mampu.

Lalu, di sini juga menyoroti dialog Bondi dan teman-temannya soal Bapak yang bekerja serabutan. Satu temannya berkomentar bahwa kerja serabutan itu keren karena memiliki banyak pekerjaan. Namun, satu lagi temannya mengatakan bahwa kerja serabutan memang banyak pekerjaan tapi tetap miskin.

Dari adegan ini seolah menyentil kaum bawah yang harus bekerja keras hingga letih, mengambil banyak job namun hasilnya hanya cukup untuk hidup saja. Agak miris, tapi memang kenyataannya seperti itu sih..

Plot Hole untuk Lanjut Film Ke-3?

review film pengabdi setan

Jujur saja aku cukup frustasi karena banyak hal yang tidak dijelaskan dalam film keduanya ini. Sangat besar harapanku untuk menjelaskan soal kultus yang disembah oleh Ibu. Tapi... justru pembahasan tentang kultus hanya diberi porsi yang minim.

Jangan berharap ada penjelasan yang rinci soal setan yang disembah, ya! Di sini hanya memberikan 'kejutan' bahwa dalang yang bersekutu dengan setan adalah Bapak, bukan Ibu! Namun, lagi-lagi kejutan ini gagal membuatku terkesan. Seolah hanya angin lalu saja.

Justru yang membuat penasaran adalah dua orang yang muncul di akhir adegan film. Entah mereka siapa, tapi sepertinya mereka adalah petinggi dari kultus yang selama ini disembah oleh Bapak dan Ibu. Fyi, dua orang yang muncul di akhir adegan film itu muncul juga di film Pengabdi Setan pertama lho.

Tapi, sampai di Pengabdi Setan: Communion, kedua orang itu masih berstatus 'misterius' alias penonton belum tahu latar belakang dan tujuan mereka. Makanya, aku berasumsi mungkin filmnya bakal dilanjut lagi. Entahlah, sampai artikel ini ditulis pun belum ada berita tentang lanjutan Pengabdi Setan 3.

Oh iya, selain itu, di sini juga banyak karakter baru yang tidak dijelaskan asal usul dan latar belakangnya. Aku ambil contoh Bapak. Di menit-menit terakhir, penonton sudah tahu kalau ternyata sosok Bapak lah yang awalnya terjerumus dan mengajak Ibu untuk menyembah setan.

Tapi yang menjadi pertanyaan adalah, kapan Bapak mulai bersekutu? Bagaimana kejadiannya? Apa alasan Bapak sampai nekat bersekutu dengan setan? Tidak ada penjelasan sama sekali. Ini juga terjadi dengan karakter lainnya, yaitu polisi yang tampil di menit awal film.

Baca Juga: Review Series Netflix Lockey Key S1

Aku pikir, polisi lah yang menjadi saksi kunci atas munculnya kultus Raminom. Tapi nyatanya, polisi tidak diberikan screentime yang cukup untuk menjelaskan kejadian di tahun 1955 - Bandung. 

Apalagi teman polisi yang berprofesi sebagai wartawan pun hanya muncul sangat singkat. Hal ini membuat penonton lupa bahwa dua orang tadi menjadi sosok saksi yang sangat penting tentang kehadiran kultus sesat. 

Tapi plot hole yang aku sebutkan tadi mungkin akan diungkap dalam film lanjutan, entahlah. Tapi aku sangat berharap, jika ada film ketiga maka semua pertanyaan tadi bisa terjawab sehingga membuat alur cerita Pengabdi Setan menjadi lebih jelas dan lugas.

Yup, itu aja ulasan yang menurutku paling menarik untuk dibahas. Sebenarnya masih banyak hal yang bisa dibahas, tapi tiga poin yang aku sebutkan sudah cukup menggambarkan bahwa Pengabdi Setan: Communion adalah salah satu film horor Indonesia yang sukses.

Meski masih ada kekurangan dari segi cerita, overall aku menikmati filmnya. Tensi menegangkan dan tingkat keseramannya juga cukup pas tanpa harus memunculkan banyak setan di dalamnya. Nah, kamu tertarik untuk nonton? Atau, sudah nonton? Yuk, share pendapatmu di kolom komentar!

Comments

  1. Hawanya gore gitu gak ya mbak? Ak penasaran, tapi gak kuat lied darah darah

    ReplyDelete
  2. Ah aku belum sempat nonton filmnya mbak, wah kalau melihat reviewnya kayaknya bakal ada sesi 3 nya dong ini hihi...belum ketahuan juga siapa yang ibu sembah

    ReplyDelete
  3. Adiku baru aja download yg 1. Aku baca ini udah horor takut mau nonton.

    ReplyDelete
  4. Belum pernah nonton yang yg pertma, tp kayaknya belum minat deh sol.y ngeri kalau nonton film horror

    ReplyDelete
  5. Geerrr... baca sinopsisnya bulu kuduk merinding. Tapi aku belum nonton pula yang pertamanya, apakah akhirnya aku akan menonton? hmmm....tunggu ada temennya dulu deehh

    ReplyDelete
  6. Hmm benar sih, kalau saya nonton sekuel 1 dan 2 .. saya akan penasaran dengan setan yang dikultuskan dan serba-serbi pemuja setan itu. Sepertinya bakal ada sekuel ke-3 ya?

    Btw, saya suka cara review, Mbak ... kritis. Mengandung spoiler gpp krn saya gak nonton film ini berhubung merasa kehidupan saya cukup horor jadi saya pengennya nonton film yang komedi saja hihi.

    Nah, dengan adanya review ini saya jadi punya gambaran filmnya dan saya setuju dengan apa yang Mbak tuliskan, termasuk pergeseran tone warna latar dari tahun 1955 ke tahun 1980-an itu.

    ReplyDelete
  7. Petjaaahhh bgt ini pilemnya
    Laris maniiisss
    Di Sby juga banyak yg nonton

    ReplyDelete
  8. Duh, saya ngeri mau nonton filmnya. Engga kebayang yang pada meninggal mengenaskan. Ternyata kayanya mau ada kelanjutannya ya di bagian ketiga, soalnya banyak yang belum terungkap.

    ReplyDelete
  9. Belum pernah nyoba nonton horornya Joko Anwar ni, rencananya baru mau coba perempuan tanah jahannam di Netflix

    ReplyDelete
  10. Setelah saya nonton film pengabdi setan 2 ini memang masih banyak alur cerita yang masih misterius seperti ulasan dalam artikel ini tetapi dari segi cinematography nya menurut saya keren sih.

    ReplyDelete
  11. Ini katanya sampe Go International ya film nya. Joko Anwar emang the best banget sih kalo bikin film horor

    ReplyDelete
  12. Aku takut nonton ini tapi penasaran. Tulisan ini membuat rasa penasaran aku hilang sedikit demi sedikit. Walau masih bekum berani nonton,hehe

    ReplyDelete
  13. Aku memilih nggak nonton Mbak, takut genre horor. Btw, baca review Mbak rasanya juga ikutan deg-deg an, cara menggambarkannya keren.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Urutan Member NCT 2021 dari yang Tertua hingga Termuda

Urutan Member NCT Dream Tertua Hingga Termuda, Siapa Biasmu?

Urutan Member NCT 127 Tertua Hingga Termuda, Siapa Bias Kamu?